Sang Maha Queer: Sang Pembebas bagi Komunitas LGBTIQ



Aku hanyalah pendosa.. mereka bilang seperti itu, 
Aku terjebak pada dimensi kebingungan...
Sering kali kudengar mimbar itu berkata: “kamu itu berdosa, 
Kamu gak takut nanti dihukum Tuhan, seperti kisah sodom & gomorah?” 
Bukankah setiap orang berdosa? Dan kenapa harus aku yang ditekan?
Pendetaku bilang: “kamu itu harus berubah, untuk masa depan yang lebih baik.”
Bukankah kalimat itu menjadi kesombongan iman, seakan-akan ia lebih suci dibandingkan ku...
Jika dilihat kembali, memang benar Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, itu memang kondrat manusia, namun kenapa aku harus tercipta?
Tuhan gak pernah berbicara langsung kalau jadi begini itu dosa, kalau sekarang dari pesan Whatsapp mungkin lebih cepat sampainya, tapi dia hanya diam disana..
Aku bertanya kembali, jika menjadi seperti ini dosa, dapatkah kita menjauhinya? Atau jatuh lagi lebih dalam?

            Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan sosok Allah sebagai Sang Maha Queer, Allah yang berada pada orang-orang tertindas khususnya komunitas LGBTIQ, Allah yang tidak memiliki jender, Allah yang bersentuhan langsung dengan mereka yang dipinggirkan oleh masyarakat, dimarjinalkan oleh masyarakat, melalui pengalaman-Nya di tengah dunia sebagai perwujudan dari kasih anak-Nya, Allah sebagai queer yang membebaskan umat-Nya. Untuk membahasnya saya akan menggunakan teori queer dan teologi queer untuk menganalisis tulisan ini.


Allah Sang Maha Queer

            Kata queer, menurut Patrick S. Cheng dalam bukunya Radical Lovediartikan sebagai sebuah payung istilah, sebuah tindakan transgresif, dan penghapusan batas-batas. Pengertian atas payung dalam hal ini ialah bersolidaritas terhadap kelompok LGBTIQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Interseks, Queer), tindakan transgresif ialah megklaim frasa negatif menjadi label yang positif, dan memiliki rasa bangga karena bertentangan dengan norma-norma masyarakat, secara khusus berkaitan dengan identitas seksualitas dan gender, dapat dimengerti bahwa kata queer menjadi kata yang dipakai sebagai kata kerja atau sebuah aksi, yaitu metodologi untuk menantang dan mengganggu status quo dari heteronormatif. Pengertian atas penghapusan batas-batas dimengerti sebagai pertentangangan atas batasan konstruksi, seperti konsep biner, homoseksual-heteroseksual, laki-laki perempuan, queer berusaha untuk mendekonstruksi kembali pemahaman atas gender dan seksualitas. (Cheng 2011, 4-6) 
Queer juga digambarkan sebagai sesuatu yang aneh atau ganjil dari yang normal, normatif dan dominan, tentunya keberadaan komunitas LGBTIQ menjadi bagian abnormal, tidak normatif dan dominan. Realitas yang terjadi ialah banyak komunitas LGBTIQ yang tertindas, distigma, dan didiskriminasi atas kontruksi sosial yang mengikat. Masyarakat dalam lingkungan sosial terbagi menjadi dua asumsi, kelompok essensialisme dan antiessensialisme, essensialisme merupakan golongan yang memahami bahwa antara gender dan seksualitas merupakan hal yang alami dan tidak dapat berkembang, sedangkan antiessensialisme merupakan golongan yang memahami bahwa gender dan seksualitas manusia ialah cair dan dapat berkembang melalui proses, ada pertentangan diantara dua kelompok tersebut, antara pro dan kontra, namun ada juga yang memilih posisi netral untuk tidak masuk ke dalam permasalahan tersebut.
Allah adalah Sang Maha Queer, maksudnya ialah Allah berusaha untuk hadir di luar ideologi heteroseksual, secara tidak langsung Allah mengalami proses coming outdalam konsep teologi konvensional selama ini, Allah yang tersembunyi berusaha untuk keluar, tujuannya ialah menyuarakan dan bertindak kepada orang-orang queer. Althus-reid yaitu penulis buku The Queer God, ia merefleksikan Allah secara intim dalam hubungan yang penuh cinta dan kesenangan. (Altahus-reid 2003, 7) ia juga berpendapat bahwa teologi queer ialah tindakan dan refleksi memakai cara kritits biseksual atas Allah dan kemanusiaan, hal ini ditunjukan untuk mengambarkan hubungan yang tersembunyi dan ketidakseimbangan, oleh karena itu teologi queer adalah teologi yang melampaui diad(laki-laki-perempuan, benar-salah), memiliki ketidakstabilan dari cara berpikir permanen dan memperkenalkan ketidaksesuaian dalam teologi konvensional. (Althaus-reid 2003, 15-16)

Allah: Sang Maha Queer yang Membebaskan 
Kebangkitan Yesus menjadi harapan bagi orang-orang queer, Allah ada dalam sisi orang yang tertindas, hal ini didasari dari pengalaman Yesus (ruang dan waktu) diidentifikasi dengan orang-orang yang tertindas, berdasarkan hal ini orang-orang queer dapat menarasikan bahwa Yesus adalah seorang queer (Cornwal 2011, 210) Allah tidak hanya berada pada mereka yang kuat, melainkan berada juga pada mereka yang tertindas dan rapuh, Coming Outyang dilakukan Allah ialah menarasikan keberadaannya melalui Yesus, yang melayani orang-orang  “unclean” untuk bersama dengan Allah, mereka yang berada diluar, tidak termasuk dalam bagian komunitas, Allah merangkul mereka semua, Allah memilih mereka yang lemah di dunia untuk mempermalukan yang kuat, maksudnya Allah berusaha untuk menyuarakan suara-suara mereka yang lemah menjadi bagian dari dunia. (Cheng 2011, 46)
Kristus Sang Pembebas menjadi model  rahmat Allah bagi komunitas LGBTIQ, Yesus Kristus dapat dimengerti sebagai seseorang yang membebaskan semua yang diperbudak sampai kepada bentuk penindasan, termasuk heteroseksual dan homophobia, model ini menjadi kontekstual dengan masa kini. Awal perjalanan pelayanan Yesus memiliki misi untuk membebaskan mereka yang tertindas, pernyataan ini dinarasikan dalam Kitab Injil Lukas 4: 18-19: “ Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Inilah model pembebasakan yang digagas oleh Yesus Kristus, sebagai pembebas Kristus menjadi model Yesus yang Queer. (Cheng 2012, 91)
Kristus sang pembebas membebaskan komunitas LGBTIQ dari ketertindasan oleh paham heteronormatif dan homophobia, Cheng menyatakan bahwa Kristus Sang Pembebas bertujuan untuk membebaskan kita dari konsep pemikiran biner mengenai seksualitas dan gender, karena hal ini menjadi pergumulan yang dihadapi oleh komunitas LGBTIQ dan proses ini masih terus berjalan, Kristus Sang Pembebas menjadi aspek penting alam Kristus yang Queer, hal ini membebaskan LGBTIQ dari racun pemahaman heteronormatif dan homophobia yang mempengaruli lingkungan sosial, khususnya institusi agama seperti gereja, melalui pemahaman bahwa Yesus ada bagi mereka yang tertindas seharusnya setiap individu juga melihat penindasan atas komunitas LGBTIQ.

Kesimpulan

Allah adalah Queer, Allah yang tidak terikat pada konsep atau sebuah sistem, Allah yang tidak memiliki gender, Allah yang berada bagi mereka yang lemah, rapuh, tertindas, terdiskriminasi, Allah menyatakan kemanusiaannya melalui Yesus. Kisah yang dinarasikan oleh Kitab Suci menyatakan bahwa kehidupan Yesus Kristus erat hubungannya dengan mereka yang lemah, rapuh, terpinggirkan, dan tertindas. Kristus hadir sebagai pembebas, Kristus Sang Pembebas berusaha untuk dikontekstualisasi dengan masa kini, keberadaan Komunitas LGBTIQ yang menjadi pergumulan dan permasalahan, mereka ditindas dan dimarjinalisasi, Kristus Sang Pembebas hadir bagi mereka yang lemah, khususnya kelompok LGBTIQ yang rapuh, Kristus Sang Pembebas sebagai Kristus Sang Queer, berusaha untuk membebaskan kelompok LGBTIQ dari konsep biner, paham heteronormatif dan homophobia yang menindas kelompok LGBTIQ, melalui ini Kristus yang Queer berada di dalam mereka dan merangkul mereka. 









 Tulisan ini sudah digunakan untuk makalah UAS Teologi Queer dan Globalisasi


Daftar Acuan

Althaus-reid, Marcela. 2003. The Queer God. USA: Routledge
Cornwal, Susannah. 2011. Controversies in Queer Theology. London: SCM Press.
Cheng, Patrick S. 2011. An Introduction to Queer Theology Radical Love. New York: Seabury Books.
Cheng, Patrick S. 2012. From Sin to Amazing Grace Discovering The Queer Christ. New York: Seabury Books.



Comments

Popular posts from this blog

“Siapakah yang Dapat Memahami Allah? Peziarahan Seorang Gay dalam Meratapi Realitas dan Merayakan Kehidupan”