"I dance, therefore I hurt: a imagination the dance of queer as the sites of trauma and grace"





“Aku Menari, maka Aku Terluka: Imajinasi Tarian Seorang Queer Sebagai Situs ‘Trauma’ dan ‘Anugerah Allah’.
Abstrak
                  Pengalaman seorang tubuh seorang queer yang mengalami penolakan atas diri sendiri dan lingkungan  sosial, ia menerima berbagai penindasan (verbal dan fisik), isu keberagaman seksualitas (LGBTIQ) menjadi isu yang tabu untuk dibicarakan, oleh karena itu banyak asumsi dan stigma yang menganggap tubuh seorang queer menjadi tubuh yang ‘berdosa’. Tubuh yang dijadikan sebagai objek hina, tubuh yang ditelanjangi oleh nilai agama yang dijadikan kebenaran tunggal. Peristiwa atas tindakan diskriminasi membuat seorang queer kehilangan arti atas tubuhnya, dalam kehidupannya ia mengalami proses kebingungan, untuk menarasikan lukanya ia tidak bisa berkata, tetapi tubuhnya dapat menyuarakan lukanya melalui tarian.
                  Dalam tulisan ini, saya akan membahas mengenai proses pemulihan seorang queer, berproses di dalam tubuh yang menjadi situs ‘trauma’ dan ‘anugerah’ , dengan menggunakan  pemikiran Cyntia Hess dan Serene Jones, saya berpendapat bahwa tarian dapat mengungkapkan luka, di dalam luka terdapat tubuh yang rapuh dan anugerah Allah, semakin rapuh tubuh seorang queer maka semakin kuat ia merasakan anugerah Allah, oleh karena itu saya menawarkan ruang pemulihan melalui tari untuk kembali memaknai ulang anugerah Allah di dalam tubuh yang terstigma, seksualitas yang terdiskriminasi, tubuh yang kehilangan artinya.

Pendahuluan
                  Tubuh mengingat, ingatan traumatis adalah saat otak menyimpan pengalaman kekerasan, ingatan berhubungan dengan perekaman, penyimpanan, dan pemanggilan kembali informasi tentang diri sendiri maupun segala sesuatu yang berasal dari luar diri (Rothschild 2000, 26). Ingatan yang kembali, terulang kembali dan mempengaruhi seseorang di masa kini, oleh karena itu trauma dapat dipahami sebagai luka yag tidak hanya dialami oleh tubuh melainkan ingatan, tubuh yang menarasikan luka.
                  Menurut Cathy Caruth dalam bukunya Unclaimed experience: Trauma, narrative, and history, peristiwa traumatis bisa terjadi pada waktu singkat, tidak terduga dan menghantui kehidupan penyintas trauma (Caruth 1996, 3-4) hal yang sama juga dialami oleh seorang queer yang kesulitan untuk mengingat secara detail pengalaman akan penindasan, namun peristiwa tersebut terus berada dalam pikirannya jika ia mendengar suatu kata yang berhubungan dengannya, misalnya: dosa, seks, tubuh, stigma, dan sebagainya.
Pertanyaan mengenai apakah Allah ada disaat aku distigma, dihina, dan didiskriminasi, membentuk suatu pemahaman ketidakhadiran Allah pada pengalaman tersebut, saya pernah mempertanyakan mengapa saya harus seperti ini? Menjadi seorang yang berbeda adalah kerumitan, rumit karena lingkungan sosial membentuk suatu konsep ‘normal’ dan abnormal’. Bagi mereka yang ‘abnormal’ akan mengalami berbagai macam bentuk diskriminasi: ejekan, kekerasan fisik dan seksual, dan lainnya. Pengalaman menjadi seorang queer yang ‘abnormal’ menjadikan dirinya tidak berarti, ia kehilangan arti dari tubuh dan seksualitasnya, masa lalu atas peristiwa diskriminasi menghantuinya dan mengingatkannya untuk terdiam, lalu bagaimanakah kita dapat membahasakan trauma yang dialami seorang queer dan memulihkannya dengan anugerah Allah?
Pengalaman Serene Jones dengan Leah mengambarkan pengalaman saya sebagai seorang queer, saya membahasakan apa yang dialami oleh leah dialami oleh tubuh ini:
“itu terjadi padaku, aku mendengarkan apa yang dikatakan pendeta itu: ‘homoseksual itu dosa’ kata-kata itu mengguncangku, tubuhku membeku, aku mengingat peristiwa pamanku yang memukuliku saat kecil, aku merasakan tamparan yang membuatku berdarah saat itu. karena aku terlalu feminin, lalu aku pergi keluar gereja dan tidak kembali, aku lupa akan diriku sendiri, pikiranku kosong” (Jones 2009, 7)
Tubuh adalah situs pengalaman bagi seorang queer, saya seringkali mengkorelasikan pengalaman yang saya alami dengan pengalaman Yesus yang disalib, Ia yang dihina dalam kondisinya yang rapuh. Berada di dalam gereja dan mendengar seruan “homoseksual adalah dosa” membawa ingatan saya atas peristiwa pemukulan yang dilakukan oleh paman, peristiwa ejekan oleh teman-teman, persistiwa atas tubuh yang dimarginalisai. Pengalaman membuat saya kesulitan untuk memaknai tubuh.

Naskah Tarian dan Interpretasi
 “Aku menari, maka aku terluka” merupakan sebuah imajinasi tarian seorang queer sebagai situs trauma dan anugerah, tarian ini menjadi intensi sebagai proses pemulihan atas tubuh seorang queer. Tarian yang mengambarkan tubuh sebagai situs trauma dan anugerah Allah, menjadi sebuah ekspresi seni yang kontekstual bagi proses pemulihan trauma individual. Tubuh seorang queer digambarkan sebagai tubuh yang terstigma oleh konstruksi ‘normal’ dan ‘abnormal’, tubuh yang dilabeli dengan label ‘dosa’.
Dalam tarian, saya menggunakan simbol-simbol berupa 12 lilin, cat bewarna hitam dan kain bewarna hitam dan putih, saya menganggap 12 lilin sebagai langkah-langkah gerakan tarian, yang mengambarkan kerumitan atas tubuh seorang queer, tubuh yang mengambarkan setiap proses yang terjadi padanya. Selain itu cat bewarna hitam yang dituliskan di dalam tubuh mengambarkan kesadaran atas stigma yang ada di dalam diri, kain hitam yang saya gunakan menggambarkan kekelaman dan trauma dari seorang queer, kain putih mengambarkan anugerah Allah. Interseksi diantara trauma dan anugerah menghasilkan tubuh yang berproses diantara keduanya, proses inilah yang saya maksudkan sebagai pemulihan.
Tarian yang dikolaborasi dengan narasi dan instrument suling, mengambarkan pengalaman tubuh seorang queer dan proses pemulihan atas tubuhnya, beberapa gerakan tarian memiliki makna tertentu yang digerakan secara berulang-ulang, berikut adalah langkah-langkah tarian, yaitu:
1.     Diawali dengan narasi:
Hey, aku disini..
Setelah sekian lama, tubuhku mulai bersuara,
Entah betapa hinanya tubuhku ini bagi kalian.
Katanya, kata mereka aku berbeda, aku berdosa,
Aku hina, aku najis aku tidak pantas berada disini.. Cukup!!
(hening + suara helaan nafas)
Tubuh ini sudah lelah, terasa amat lelah untuk menjadi diri sendiri
Air mataku sudah habis, harapanku hilang
Aku mengingat...
Pukulan itu, menyentuh tubuh yang kemayu ini
Aku hanya bisa terdiam ..
Aku mendengar kata “dosa homoseksual” pada mimbar itu
Aku tak bersuara, tubuhku gemetar, wajahku tertunduk,
Narasi “dosa” mencekikku, mencambukku, menamparku, menjatuhkanku.
2.     Instrument suling dimulai dan mulai menarikan gerakan, setiap gerakan tarian diisi dengan gerakan yang rapuh.
3.     12 Gerakan tarian: 
· Sembah-sujud yang rapuh, merupakan gambaran seorang queer yang memuliakan Allah di dalam kondisinya yang rapuh, gerakan ini juga meperlihatkan perhatian seorang queer yang tertuju pada Allah.
· Sentuhan akan tubuh, mengambarkan gambaran tubuh seorang queer yang dianggap ‘abnormal’, gerakan menyentuh kepala, payudara, kelamin, hingga kaki, mengambarkan kesatuan tubuh yang terstigma.
· Gerakan tari gemulai (pelan dan anggun), mengambarkan ciri khas dari tubuh yang tertolak, lain dari yang dominan, kehalusan gerakan yang dianggap tabu oleh lingkungan sosial, ia berusaha untuk menampilkan dirinya sendiri.
· Keseimbangan diri, mengambarkan seorang queer yang berusaha untuk menjadi sama dengan yang lain, namun keseimbangan yang ia raih menjadi rapuh karena ia tidak bisa menjadi sama, ia berada pada posisi denial.
· Bergumul, gerakan membuat gelombang pada kedua tangan, mengambarkan kondisi tubuh seorang queer yang chaos, tidak beraturan, inilah pergumulan yang ia hadapi.
· Kesadaran diri, gerakan duduk tegak dengan mata tegas, mengambarkan kesadaran atas realitas kehidupan, bahwa penolakan akan terus ada.
· Tubuh yang ternoda, mengariskan warna hitam dan merah sebagai simbol tubuh yang terstigma dan seksualitas yang terdiskriminasi.  
· Menyalibkan diri, gerakan menbentangkan tangan kanan (atas-bawah) dan tangan kiri (kanan-kiri) sebagai simbol menyalibkan diri, sebuah tanda pergumulan dan pengorbanan diri.
· Menari bersama luka dan Allah, gerakan imajinasi perpaduan tubuh yang gemetar dan gerakan gemulai mengambarkan luka dan kehadiran Allah di dalamnya.
· Berpijak pada kain, melangkah maju melewati 12 lilin menginjakan kaki pada kain hitam dan putih, mengambarkan kesadaran seorang queer atas trauma dan anugerah Allah yang ada di dalam tubuhnya.
· Berputar membentuk lingkaran, gerakan memutarkan kain hitam dan putih, sebagai simbol tubuh yang berposes diantara keduanya.
· Pemulihan diri, gerakan berdiri yang tidak sejajar dan membentangkan tangan dengan bentuk jari telunjuk menyentuh ibu jari, mengambarkan tubuh seorang queer yang rapuh dan pemulihan seorang queer di dalam tubuhnya.
4.     Narasi penutup:
Aku sadar, akan diriku sendiri, realitas penolakan, realitas penindasan dan diskriminasi
Aku sadar bahwa Allah, Allahku ialah sosok yang ada bagi tubuh yang terluka, tubuh yang terstigma, dan seksualitas yang terdiskriminasi, Ia yang merengkuh luka dan berjalan bersamaku.. yang berbeda.
Analisis Teoritis
 Cynthia Hess mengutip pernyataan Herman yang mengatakan “Traumatized people: suffer damage to the basic structure of the self. They lose their trust in themselves, iin other people, and in God.” (Hess 2009, 55). Menurut saya trauma yang dialami oleh seseorang membentuk pemahamannya akan Allah, khususnya pengalaman seorang queer dalam spiritualitasnya. Serene Jones mendefinisikan trauma sebagai luka atau kerusakan di dalam tubuh oleh kekerasan, orang yang mengalami trauma ialah mereka yang luka didalam pikiran dan emosi (Jones 2009, 12).
Seseorang yang mengalami trauma memiliki gambaran yang pecah dan berantakan, saya berusaha untuk mengkontekstualisai tubuh seorang queer yang pecah dan berantakan, suatu peristiwa traumatis yang didasari tindakan stigma dan label ‘dosa’ pada tubuhnya. Oleh karena itu saya sepaham dengan Jones peristiwa traumatis secara konstan “bermain di dalam pikiran” dan akan terus diingat (Jones 2009, 19). Tantangan yang ada ialah bagaimana cara untuk mengimplikasi pengalaman trauma ke arah pemulihan? Melalui imajinasi yang terbentuk oleh anugerah yang mungkin memulihkan peristiwa trauma (Jones 2009, 21)
Serene Jones menyakinkan saya dengan menyatakan “If grace has power to reshape the imagination, then theology is the language that both describes that power evokes it in the lives of people by telling grace-filled stories of new imaginings”, melalui pernyataan Jones, saya berangapan bahwa anugerah menjadi ruang untuk pemulihan (Jones 2009, 21-22). Jones juga mengunakan pemahaman Calvin yang menyatakan bahwa mereka yang mengalami trauma tidak hanya berbicara mengenai kekerasan yang mereka lihat dan rasakan, melainkan membuka diri diri pada terhadap kuasa Anugerah pemulihan bagi kehidupannya.  (Jones 2009, 52).
Menurut Hess, seseorang yang mengalami trauma tidak terbatas pada mengintergrasikan pengalamannya melalui narasi verbal, melainkan dengan cara nonverbal, ia mengambarkan bahwa proses pemulihan diperoleh dari melukis, drama, atau menari. Dalam menari ada sebuah gestur tubuh, sebuah gerakan yang mengekspresikan perasaan, seorang yang mengalami trauma dapat menceritakan pengalamannya melalui tubuh dibandingkan sebuah kata-kata (Hess 2009, 73). Melalui seni dapat mengungkapkan gambar dan kenangan yang ada di bagian terdalam tubuh. Oleh karena itu tarian dapat menjadi ruang untuk mengungkapkan pengalaman traumatis sekaligus ruang pemulihan, Hess juga berpendapat bahwa gerakan menari memberikan sebuah jalan “out of their heads,” yang menjadi proses untuk terhubung dan terkoneksi dengan diri yang sebelumnya tidak diketahui, tubuh yang menyatakan kebenaran (Hess 2009, 74)
Hess mengartikan pendekatan nonverbal seperti tarian dapat membentuk kesadaran dan mengintegrasi ingatan trauma pada narasi personal, secara tidak langsung pemulihan nonverbal membuat seorang yang mengalami trauma menginternalisasi hal yang baru, nilai-nilai dan kebiasaan positif, menambahkan hal ini Hess mengutip pernyataan Herman, yaitu saat seorang penyintas dapat memperoleh kembali sejarahnya dan merasakan harapan baru dan kekuatan untuk menjalani kehidupan (Hess 2009, 74). Pada proses ini seorang yang mengalami trauma tidak melupakan trauma atau meninggalkannya dibelakang, melainkan berjalan bersama trauma dengan perspektif baru sebagai ruang pemulihan.
Tubuh seorang queer dipandang sebagai tubuh yang hina, terstigma, bahkan seksualitas seorang queer didiskriminasi oleh nilai heteronormatif, pemulihan atas tubuh seorang queer dapat diceritakan melalui gerakan tubuh, melalui bisualitasi dan pemahaman tentang Allah, bukan dengan standar normalitas dan keindahan yang ada di masyarakat, melainkan dengan kesadaran untuk berbicara dan merasakan Allah yang ada bagi tubuh, melalui tarian saya sebagai penari queer terhubung dengan peristiwa kelam, namun melalui tarian saya juga terhubung dengan Allah. Gerakan tarian 1-7 mengambarkan kondisi tubuh seorang queer dan pengalamannya, ia yang dibatasi oleh standar normal, gerakan tarian 8-9 mengambarkan bahwa ia ikut merasakan tubuh Kristus, dengan memakai imajinasi salib yang dimaknai sebagai peristiwa kekerasan, namun Allah juga berada pada peristiwa itu untuk bertemu dengan manusia, dalam cinta yang amat dalam dan menawarkan kepada kita anugerahnya (Jones 2009, 71). Gerakan tarian 10-12 mengambarkan seorang queer yang berdamai dengan diri sendiri dan berjalan bersama dengan Allah, menerima pengamanan traumatis sebagai pengalaman yang indah, dan berjalan dengan kesadaran bahwa penolakan atas dirinya akan selalu ada.
Mengimajinasi tubuh seorang queer sebagai anugerah Allah, dalam bukunya From Sin to Amazing Grace, Patrick S. Cheng mengutip pernyataan Robert Wood dan Robert Williams,  mereka menyatakan dosa bukanlah menjadi homoseksual namun kegagalan untuk menyesuaikan diri menjadi homoseksual, dosa dipahami sebagai penolakan terhadap diri sendiri atau keinginan untuk menjadi ‘normal’, mereka menambahkan pernyataan mengenai anugerah “Grace, by contrast, is the acceptance of oneseld, queer, lesbian or gay, as created by God.” (Cheng 2012, 10).
Tubuh seorang queer yang terstigma dan seksualitas yang terdiskriminasi menjadi sebuah pengalaman traumatis, khususnya pada tubuh yang mengingat peristiwa-peristiwa kelam dan menjadi sebuah ingatan, ruang pemulihan dapat tercipta melalui kesadaran bahwa Allah menciptakan tubuh seorang queer, dan realitas akan penolakan tubuhnya terus berjalan seiring waktu, berdamai dengan diri sendiri dan menerima tubuh sebagai keindahan merupakan cara untuk pulih.

Makalah ini telah dipresentasikan dan menjadi UAS Teologi Trauma dan Estetika 




Daftar Acuan
Caruth, Cathy. 1996. Unclaimed Experience: Trauma, Narrative, and History. Baltimore: JHU Press
Cheng, Patrick S. 2012. From Sin to Amazing Grace: Discovering The Queer Christ. New York: Seabury Books.
Hess, Cynthia. 2009. Sites of Violence, Sites of Grace: Christian nonviolence and the traumatized self. Lanham: Lexington Books.
Jones, Serene. 2009. Trauma and Grace: Theolgy in a rupture world. Louisville: Presbyterian Publishing Corp.
Rothschild, Babette. 200. The body remembers: The psycophysiology of tauma and trauma treatment. 1 edition. New York: W.W. Norton & Company

Comments

Popular posts from this blog

“Siapakah yang Dapat Memahami Allah? Peziarahan Seorang Gay dalam Meratapi Realitas dan Merayakan Kehidupan”