“Siapakah yang Dapat Memahami Allah? Peziarahan Seorang Gay dalam Meratapi Realitas dan Merayakan Kehidupan”


“Siapakah yang Dapat Memahami Allah? Peziarahan Seorang Gay dalam Meratapi Realitas dan Merayakan Kehidupan”


Abstrak
Apakah memahami Allah hanya terbatas pada mereka yang mengklaim sebagai heteroseksual? Pertanyaan ini merupakan titik awal untuk memahami peziarahan seorang gay. Ia yang meratapi realitas komunitas gay dan mencoba untuk menemukan jawaban atas kerumitan yang dihadapinya. Dimulai pengenalan atas konteks pola relasi komunitas gay yang mempengaruhi segala aspek (penolakan diri sendiri dan spiritualitas). Semua berawal dari dokrin yang selama ini telah dijalankan. Pembacaan ulang atas Roma 1:26-27 menjadi sebuah tawaran untuk melihat kembali teks Alkitab, menjadikannya sebagai sebuah esensi iman untuk bertindak.
 Dalam makalah ini saya akan membahas imajinasi tarian sebagai langkah untuk memahami Allah di dalam realitas kehidupan. Dengan menggunakan pemikiran beberapa tokoh teolog queer. Saya beragumen bahwa seorang gay dapat memahami Allah melalui penerimaan diri sendiri dan usahanya membangun pola relasi yang sehat. Inilah yang saya maksudkan sebagai “perayaan atas kehidupan.” Merayakan diri sendiri dengan memahami Allah.

Kata Kunci: Homoseksual, Gay, Allah, Amoralitas, Penerimaan Diri, Tari.

Pendahuluan
Menjadi seorang gay dengan gender queer merupakan sebuah peziarahan. Apa itu gay? Gay merupakan ketertarikan manusia yang melibatkan rasa emosi dan romantis, dan/atau seksual terhadap manusia lain, kata ini merujuk pada laki-laki yang tertarik terhadap laki-laki lain (Carolina 2019, 22). Kata homoseksual dan gay saya gunakan dalam makalah ini. Mengapa peziarahan? karena saya ingin menunjukan sebuah proses perjalanan seorang gay, namun hal ini bukanlah sebuah kebanggaan melainkan sebuah “salib.” Salib sebagai gambar ratapan atas realitas dunia yang beragam dan sebagai usaha untuk menjawab pertanyaan: “Apakah seorang gay dapat memahami Allah? Apakah seorang gay dapat menerima dirinya sendiri?
Memahami Allah sering dilihat sebelah mata, terbatas pada mereka yang sempurna “normal, heteroseksual, able-body, kuat, dan maskulin.” Lalu bagaimana dengan mereka yang berada di luar konstruksi sempurna? Saya memahami anggapan di atas bahwa menjadi gay adalah tidak benar, salah, bahkan dosa, hasilnya Allah diobjektifikasi dengan nilai heteroseksual. Apakah Allah berbelas kasih hanya pada mereka yang sempurna dan menutup mata-Nya pada mereka yang dianggap pendosa? Melalui pertemuan komunitas gay dan diri saya sendiri, saya mulai memahami peziarahan kehidupan. Semesta menciptakan kebingungan dalam pertanyaan seputar seksualitas dan iman, keduanya berbenturan dengan kenyataan dunia.
Tulisan ini dapat dibaca sebagai sebuah gerakan tari yang merekam jejak-jejak seorang gay dan refleksi tentang apa yang dipahaminya sebagai kehidupan. Tulisan ini juga dapat dilihat sebagai pelangi pudar di tengah hujan yang mengambarkan tangisan saya atas komunitas gay saat ini. Berdasarkan analisis teks Roma 1:26-27, saya menggali lebih teks yang sering dipakai untuk mengutuk seorang gay, menganalisis konteks perilaku seksual yang dibahas oleh Paulus sebagai kritik  atas pola relasi hubungan gay (chat, meet, fun, and lost contact) masa kini.
Pada tulisan ini saya menawarkan imajinasi teologis mengenai menjadi gay yang memahami Allah, khususnya di tengah dunia.  Melalui  tarian, sebagai sebuah gerakan simbolik yang mengambarkan peziarahan seorang gay. Melalui tari ini setiap orang dapat terlibat aktif memahami pergumulan seorang gay dalam meratapi realitas dunia dan merayakan kehidupannya.

Bab I
Ratapanku atas realitas
            Sebagai seorang gay dan gender queer, saya diperhadapkan dengan berbagai perjumpaan realitas. Pertemuan dengan realitas menyadarkan saya bahwa ada sebuah batasan yang hendak saya bahasakan, ada sebuah titik yang ingin saya gambarkan, ada sebuah luka yang saya tulis, dan ada sebuah harapan yang muncul dari ratapan saya terhadap realitas. Pada kesempatan kali ini saya akan fokus membahas konteks makalah ini, terbatas pada pertemuan dengan komunitas gay dan diri saya sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan sekitar punya sikap dan tindakan yang beragam, khususnya dalam menyikapi keberadaan homoseksual. Saya tidak tertarik untuk membahas sikap pro/kontra homoseksual, hal ini merupakan sesuatu yang tidak etis, saya bukan sebuah ide melainkan manusia, oleh karena itu saya lebih mendalam membahas komunitas gay di Indonesia dan pengalaman diri sendiri sebagai seorang gay.

Gay di Indonesia
Aku menari maka aku terluka
Menjadi diri sendiri dan tertolak dunia
Peziarahanku semakin rumit
Teman-temanku pun sama, mereka menangis paksa
Menikah tanpa rasa, cinta palsu buktinya
Mereka bersuara, agama dan budaya seakan tertawa
Melihat tubuh yang terpaksa melebur nafsu
Kudengar penismu menangis karena menyentuh vaginanya,
Maaf, aku tidak bisa menghentikan kemauan mereka

Aku gelisah mendengar kisah mu
Pikiranku henti tanpa arti jelas
Tak bisa ku ubah dunia ini...
Namun aku bersamamu dalam tangis yang sedu,
Jujur ini realitas, bohong itu cintamu
Jadilah dirimu, tetaplah teguh..
Semua ini pilihanmu

Kata-kata di atas merupakan ratap tangis kami di dalam komunitas, banyak di antara kami yang terpaksa menikah untuk memenuhi tuntutan sosial. Pada kali ini saya tidak membahas gay di Indonesia secara luas, melainkan terbatas pada pola relasi gay di Indonesia yang menarik untuk diperhatikan, untuk melihat lebih dalam komunitas gay, merasakan kegelisahan mereka sebagai seorang gay, melihat kebutuhan serta pandangan mereka mengenai kehidupan. Saya juga akan membahas bagaimana seorang gay melihat sesama, dan respons mereka terhadap unsur-unsur keagamaan.
            Media yang saya gunakan ialah media sosial yaitu aplikasi dating, suatu ruang perjumpaan yang sangat popular pada zaman ini, semua orang dapat menggunakannya sesuai dengan kebutuhan, aplikasi ini tidak hanya digunakan oleh komunitas heteroseksual melainkan juga digunakan oleh komunitas homoseksual. Ada beberapa aplikasi di media sosial yang menyediakan akses bagi komunitas gay, yaitu: ROMEO, Grindr, Hornet, GROWLr, Daddyhunt, Blued, dan lainnya. 
Aplikasi yang menjadi fokus penelitian saya ialah Hornet, Gay Apps yang didirikan pada tahun 2011, dengan pengguna lebih dari 25 juta orang secara global, aplikasi ini memiliki misi untuk menguatkan komunitas untuk menjadi komunitas yang lebih baik. Aplikasi orange atau Hornet menjadi aplikasi yang sangat popular bagi komunitas gay di Indonesia, aplikasi yang menyediakan sebuah ruang (dating) bagi mereka yang ingin terhubung satu sama lain. Hal yang menarik ialah yang dapat kita temukan ialah beragam laki-laki di aplikasi ini, tidak terbatas pada status sosial, usia, asal daerah. Hemat saya aplikasi ini dijadikan sebagai narahubung antara seorang gay dengan gay lainya, seorang gay dengan komunitas gay, dan komunitas gay dengan komunitas gay lainnya.
            Hornet merupakan tempat yang menyenangkan di mana setiap orang dapat mengekspresikan diri, dengan begitu setiap orang yang ada di dalamnya dapat menjalin hubungan yang paling berarti. Pedoman penggunaan Hornet merupakan peraturan yang dibentuk untuk mengatur para penggunanya, selain itu dijelaskan juga bahwa Hornet menjadi rumah bagi kumunitas gay dan Hornet sangat menghormati keinginan mereka (Hornet Website, 2019). Sama seperti aplikasi gay dating lainnya, Hornet seringkali dipahami sebagai tempat maksiat, maksudnya adalah tempat ini mejadi ruang bebas dimana banyak orang yang menjajakan diri dengan biografi yang menarik, misalnya:
contoh 1: “TOP 16 Cm, Long Time, No Sissy, No Chubby, 20-30” 
contoh 2: “Foto gw Privasi kalau mau liat gw ketemu langsung aja, di bawah usia 30 tahun, no ngondex nd tua.. tks
contoh 3: “Pria super slim #apa adanya # bergaya sesuai kemampuan #gay neko neko biasa aja # no pict no chat # no alcohol # hobby renang, panjat tebing, boxing, baca buku #kulit hitam eksotis mulus bersih
contoh 4: “neeed ngopi. Nongkrong. Jalan bareng : hidup ini terlalu singkat jika digunakan hanya untuk mengeluh. Banyak hal indah jika kau mau berpikir positif #bigdicks #manly
contoh 5: “looking for serious relationship: pls jangan ngondek bangsat!!! Geli !!! jangan bikin baper ya, no brondong
contoh 6: “shy and simple person: its hard to find a friend. Sex everywhere

            Aplikasi Hornet memperlihatkan berbagai macam identitas diri yang ditulis di dalam biografi, hemat saya tujuannya ialah menunjukkan kebutuhan dari setiap orang dan ekspetasi-ekspetasi terhadap yang dituju. Tidak jarang pengguna aplikasi ini menggunakan foto palsu untuk menarik perhatian, foto-foto tanpa baju juga sangat menarik. Di dalam aplikasi ini juga kita akan menemukan beberapa jasa yang ditawarkan oleh laki-laki gay seperti: jasa pijat, jasa prostitusi, produk-produk kesehatan kelamin dan lainnya.
Herman, seorang gay yang sudah 5 tahun bermain aplikasi Hornet, ia mengatakan “laki-laki di aplikasi itu hanya memikirkan seks, presentase mereka yang mau memiliki hubungan hanya 2/10 orang” (Herman 2019). Pandangan lain saya dapatkan dari Ahmad, seorang yang menggunakan Hornet untuk prostitusi “ya gitu, mayan juga dapet 300/orang, sehari tuh 3 kali jadi 900, kalau sebulan kan alemong” (Ahmad 2019). Apa yang dikatakan oleh Herman dan Ahmad memperkuat gagasan saya mengenai relasi hubungan gay, apakah sudah berjalan dengan aturan yang dibuat atau sebaliknya?
Konsep “Chat, Interest, Meet, Fun, Block”, pola seperti ini sudah menjadi pandangan yang lumrah bagi komunitas gay, tentunya menjadi bahan acuan untuk menggunakan aplikasi. Berawal dari chat, seorang gay akan mulai mencari yang mereka lihat baik di dalam biografi atau sesuai dengan kebutuhannya, lalu timbulah rasa tertarik di saat mendapatkan respons yang positif, berlanjut dengan pertemuan yang seringkali dilakukan di kos-kosan, hotel atau motel, tidak dapat dipungkiri hubungan seksual pada setiap pertemuan (berdasarkan konsensus), hubungan ini ditentukan oleh kedua belah pihak, banyak kasus yang menyatakan setelah berhubungan seksual mereka memilih untuk lost contact bahkan saling memblokir. Hal ini tidak bisa digeneralisasi bahwa semua gay melakukan hal di atas, faktanya ada beberapa pasangan gay yang tetap melanjutkan hubungan mereka. Relasi yang sudah terbentuk dalam komunitas gay secara global memang terjadi, hemat saya relasi ini tidak seharusnya dibatasi atau dilabeli pada relasi hubungan gay belaka.
            Banyak gay yang kehilangan kepercayaan  satu sama lain, karena pola relasi yang sering ditemukan ialah “Chat, Interest, Meet, Fun, Block”, suatu relasi yang kemungkinan menguntungkan bagi kedua belah pihak namun berakibat fatal ke depannya. Mengenai dampak pasca hubungan seks, akankah ada relasi yang seimbang setelahnya atau sebaliknya merupakan pelampiasan hasrat belaka? Akankah ada penyakit atau virus yang menyebar atau akankah ada gangguan psikis setelahnya? Ada banyak opsi yang saya temukan dalam memahami komunitas gay di aplikasi hornet, titik fokus terhadap hubungan yang serius sangat jarang ditemukan, bahkan hal ini akan berkaitan dengan prinsip identitas yang mengguncang diri, dengan alasan-alasan menjadi gay terbatas pada hubungan fun secara tidak langsung memengaruhi citra gay.
            Pertanyaan-pertanyaan seputar salahkah menjadi gay, mengapa saya tercipta seperti ini, mengapa semua gay hanya memikirkan soal seks, adakah yang masih setia? Terus terbayang pada pemikiran komunitas gay. Sisi lain yang saya lihat ialah ada sebagian di antara mereka yang sudah memiliki kesadaran atas hal ini, misalnya: kesadaran bahwa pola relasi di komunitas memang sudah rusak.
Bagaimana cara seorang gay menilai gay lainnya? Pertanyaan ini menjadi kata kunci saya membahas topik kali ini, jawabannya ialah dengan melihat penampilan dan ekspresi. Penampilan seorang gay dapat dinilai dengan cara ia berpakaian dan pakaian apa yang ia gunakan. Sama seperti seorang heteroseksual, seorang gay juga mempunyai beberapa standar untuk gay yang disukai. Hal kedua ialah ekspresi, yaitu cara tubuhnya bergerak dan cara ia menampilkannya di depan publik, seorang yang berjalan dengan feminin biasanya lebih sering mendapat penolakan yang beragam, namun jika seorang dengan gaya berjalan maskulin lebih sering disorot sebagai sosok gay yang sempurna.
            Pertanyaannya, adakah konsep-konsep menjadi gay yang sempurna dan menjadi gay yang tidak sempurna? Hal seperti inilah yang perlu untuk dikritisi di dalam komunitas gay, penerimaan terhadap teman-teman yang feminin jarang ditemui, alhasil di saat mereka melihat ada yang bergaya feminin akan ada asumsi-asumsi yang buruk. Lalu bagaimana dengan mereka yang feminin menolak teman-teman yang feminin? hal ini akan berkaitan dengan penerimaan diri sebagai seorang gay, menerima identitas gender dan ekspresi yang mereka miliki secara natural, tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh nilai-nilai sosial dan budaya telah membentuk konsep laki-laki yang sempurna, yakni laki-laki yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Mereka yang berada di luar atau yang tidak bisa memenuhinya dianggap abnormal/tidak wajar.
            Saya melihat bahwa ada permasalahan kritis di dalam komunitas gay. Bagaimana seorang gay dapat bersuara jika keberadaannya juga masih ditolak oleh komunitasnya? Komunitas gay belum dapat bersatu jika di dalamnya masih ada tindakan pelecehan satu sama lain. Penerimaan atas sesama gay menjadi alasan yang penting untuk mempersatukan komunitas, menjadi satu untuk bersuara di tengah masyarakat mengenai keberadaannya.    
Hal kedua yang saya temui ialah berkaitan dengan unsur-unsur agama. Pada tanggal 11 Juni 2019, saya berinteraksi dengan komunitas gay melalui status di timeline Hornet, yaitu:
Foto di atas ditanggapi oleh beberapa orang sebagai berikut:
·      “Tuhan menentang kaum gay. Namun aku sudah perlahan-lahan berubah, jangan posting rumah Tuhan (gereja) b*ngsat, ku patahkan lehermu anj*ng” (kevin 2019).
·       “Jadi LGBT itu berat.. ini ujian” (Pengen Tusbol, 2019).
·      “Kita hanya menjalani apa yang kita rasa. Karena perasaan tidak bisa dibohongi” (Putra 2019).
·      “LGBT ada di hati Tuhan, Dia datang menolong semua ciptaan-Nya. Tuhan sayang LGBT tetapi perilaku yang suka ganti pasangan dan perilaku jual diri yang menjadi persoalan dan harus bertobat” (Xxx 2019).
·      “Kita sadar, kita sudah mempermalukan nama Tuhan lewat jalan yang kita jalani sekarang. Karena tubuh ini merupakan bait suci, oleh karena itu harus sesuai dengan kodrat, menjadi ‘normal’ sesuai dengan jalan Tuhan” (Nikmat Tampa Akhir 2019).
·      “Semua Agama mengajarkan hubungan sesama jenis itu dosa, tidak ada agama yang mentolerir LGBT, kalaupun ada hanya segelintir dan didasari kemanusiaan” (Hyperbot_BigAss 2019).
·      “Tolong jangan nodai kesucian Kristus, murka Allah dan Kutuk buat anda, camkan itu. Walaupun itu hak anda, sekali lagi jangan diperlihatkan disini, sebaiknya cukup anda dan Tuhan Yesus yang tahu, saya juga bukan orang benar, dengan segala kekurangan, saya hanya mengingatkan” (The Hornet Guy 2019).
·      “Saya Muslim dan juga bukan dari kalangan orang yang baik dan suci. Tapi saya sarankan ini kan perihal tidak terpuji dan saya yakin agama melarang hal seperti ini. Jangan kamu nodai agamamu sendiri dengan tingkah lakumu yang seperti ini. Baiknya dalam duni seperti ini jangan bawa-bawa agama mas bro” (Jefry 2019).
·      “Kalau mau jadi pendeta saya sangat mendukung tapi tolong jangan kaitkan pendeta dengan kaum gay” (Need Fun 2019).
·      “You misguided dude!” (Ar_Di 2019)
·      “Apa maksudnya kamu upload hal seperti ini di Hornet, kamu waras atau gimana?” (Serius 2019)
Ratapanku bagi realitas gay
            Melalui hasil penelitian saya di atas dapat dimengerti bahwa konklusi mengenai iman dan seksualitas terpisah menurut beberapa gay. Tendensi kecaman dilontarkan saat berbicara mengenai agama, oleh karena itu aplikasi Hornet dilabeli sebagai aplikasi maksiat. Alhasil di saat berbicara mengenai keagamaan menjadi isu yang sangat sensitif dan kontroversial bagi komunitas gay.
Doa dan ratapanku:
Dalam doaku, aku memanggil-Mu
Lihatlah aku dalam sunyi-Mu
Jawaban tak ku temu, tolonglah aku
Mengapa berat ada padaku
Aku kecewa pada diriku dan pada mereka
Aku berdoa pada-Mu ya Allah
Meratap bagi mereka yang menolak diri sendiri,
Meratap bagi agama dan budaya yang mempermainkan kami,
Meratap bagi mereka yang mengecam seorang gay feminin
Bab II
Tinjauan Teologis-Perjanjian Baru
            Setelah membahas realitas yang saya hadapi sebagai seorang gay, maka sekarang saya akan membicarakan teks Alkitab yang dianggap anti-homoseksual. Alkitab terdiri dari ratusan pasal, ribuan perikop, ribuan ayat dan puluhan ribu kata, namun ayat-ayat yang menyinggung LGBTIQ+ hanya beberapa. Emanuel Gerrit Singgih menyatakan pemahaman yang keliru atas Alkitab sebagai anti-homoseksual berawal dari kebiasaan membaca Alkitab secara “ayat” saja, tidak memerhatikan perikop atau konteks dari teks (Singgih 2019, 26).
            Dari surat-surat yang ditulis oleh Paulus, terdapat beberapa perikop yang membahas tentang homoseksualitas, yaitu: Roma 1:26-27; 1 Korintus 6:9b-11a, dan 1 Timotius 1:8-10. Di antara ketiganya, Roma 1:26-27 merupakan perikop yang memiliki pembahasan mendalam mengenai homoseksualitas dan sikap Paulus terhadap hubungan sejenis (laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan). Perkataan Paulus berkenaan dengan hubungan sejenis haruslah dipahami dari perspektif konteks umum jemaat-jemaat pada waktu itu, hal ini berkaitan dengan penelitian teks yang bersifat semantik, yaitu memperhatikan tempat dari sebuah kata atau frasa dalam konteks kalimat dan narasi.
Perikop yang saya gunakan dalam makalah ini adalah, Roma 1:26-27. Baiklah kita membahas perikop ini sesuai dengan konteks yang ada:
 “Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka” (Roma 1:26-27)

Bambang Subandrijo mengatakan, “perikop ini memiliki latar belakang yang dihadapi oleh jemaat-jemaat Helenis di luar Palestina pada waktu itu, merebaknya amoralitas, ketamakan dan segala bentuk kriminalitas yang mulai merasuk dalam kehidupan persekutuan” (Subandrijo 2019, 49). Secara khusus teguran Paulus atas perikop ini berkenaan dengan perilaku seksual di antara sesama jenis, yang semata-mata didorong oleh nafsu birahi dan keinginan mencari kepuasan seksual, hal seperti ini lazim terjadi dalam lingkungan masyarakat fasik Hellenis. Dapat dimengerti bahwa penolakan terhadap homoseksual pada ayat 26-27 bukan sebuah tolok ukur, melainkan sebuah contoh di mana Paulus pada dasarnya merefleksikan adat dan norma-norma Yahudi yang tradisional dan identitas dari masa itu (Marbun & Ganzevoort 2016, 228).

Analisis Perikop Roma 1:26-27

Surat Roma ditulis di Korintus, penerima surat ini adalah orang-orang Yahudi-Kristen dan orang bukan Yahudi (End 1997, 3). Pada saat itu mayoritas anggota jemaat ialah orang-orang Yahudi-Kristen. Surat ini merupakan suatu kesimpulan tentang Injil Yesus Kristus. Dapat dikatakan surat ini merupakan esai teologis yang ditulis dengan rapih. Paulus mengambarkan dosa pada surat Roma sebagai polemik yang lazim dipakai oleh orang-orang Yahudi, khususnya sebagai kecaman untuk penyembah berhala dan bangsa-bangsa kafir, oleh karena itu ia menggunakan istilah penuh emosi yang digunakan orang-orang Yahudi terhadap kekafiran (End 1997, 65).
Perikop Roma 1:18-32 oleh LAI diberi judul “Hukuman Allah atas kefasikan dan kelaliman manusia.”  Ada baiknya jika kita melihat pembahasan Paulus dalam perikop ini. Menurut William Loader, Roma 1:18-25 merupakan pernyataan Paulus tentang penyimpangan-penyimpangan yang menimbulkan murka Allah atas dosa (ay 18). Paulus mengaitkan dosa mereka yang tidak mengenal Allah (penyembah berhala) dengan dosa ketertarikan seksual yang menyimpang sebagai konsekuensinya. Pemahaman tentang Allah telah menyimpang dan berakhir pada ketertarikan seksual yang juga menyimpang. (Loader 2019, 38). Pemahaman Loader membentuk suatu konsep bahwa Allah menciptakan manusia untuk tertarik dengan lawan jenis (heteroseksual), bukan sesama jenis (homoseksual).
Teks Roma 1:26-27 tidak mudah dipahami lepas dari doktrin yang dikemukakan oleh Paulus tentang keselamatan sebagai Injil yaitu anugerah pengampunan Allah (ay 16-17), teks ini juga diperhadapkan dengan keberdosaan manusia (ay 18-32). Kata “mereka” yang dijadikan objek pada perikop ini merujuk pada keadaan manusia secara universal. Paulus tidak berbicara mengenai golongan manusia tertentu, pada zaman tertentu, yang ia lukiskan adalah keadaan manusia dalam terang hukuman Allah yang diancamkan kepada semua orang yang melanggar perintah-Nya.
Menurut Jack Rogers ada beberapa kesalahan yang serius yang dilakukan oleh penafsir dalam menafsirkan Roma 1:26-27, yakni: (1) kehilangan fakta bahwa teks ini berbicara mengenai penyembahan berhala; (2) melupakan subjek kultural; (3) teks ini dipakai untuk menghakimi homoseksual yang bukan penyembah berhala, yang memiliki kasih dan kesetiaan kepada Tuhan (Rogers 2006, 79).
Pernyataan Paulus menjadi suatu asumsi bahwa teks ini merujuk tentang homoseksualitas (ay 26-27), secara tradisional teks ini dipandang dan diterima sebagai teks yang melarang praktik homoseksual. Tema yang dibahas oleh Paulus pada Roma 1:18-23 adalah penyembahan berhala. Roma 1:23 mencatat, “Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.” Anggapan awal saya ialah adanya hubungan langsung di antara penyembahan berhala dan perilaku homoseksual. Pernyataan saya didukung oleh kelompok revisionis yang menekankan konteks pembicaraan Paulus adalah orang-orang non-Yahudi yang terlibat berbagai tindakan tidak bermoral dan penyembahan berhala. Perilaku homoseksual yang muncul dari penyembahan berhala inilah yang dilarang oleh Paulus (Handoko 2016, 138).
Paulus tidak mengritik orientasi seksual, melainkan kebejatan dari perilaku seksual sebagai hasil dari kebejatan hawa nafsu. Lalu siapakah yang menjadi sasaran penghakiman Paulus? Kebanyakan penafsir menduga bahwa orang yang dijadikan sasaran penghakiman ialah warga Roma yang berbudaya Yunani-Romawi, yang dianggap tidak beradab dan tidak bermoral. Tetapi jelas bahwa Paulus berangkat dari sebuah stereotip yang sudah umum dikalangan Yahudi mengenai the other, dan bukan dari pengamatannya langsung. Faktanya di kalangan orang Romawi homoseksual dianggap wajar dan keberadaannya terdiri dari mereka yang sudah menikah, seperti yang dikatakan oleh Paulus (Singgih 2019, 54). Tulisan John Boswell yang diberi judul “Christianity, Social Tolerance, and Homosexuality: Gay People in Western Europe from the Beginning of the Christian Era to the Fourteenth Century.” Dalam tulisannya ini, Boswell menyatakan bahwa perikop Roma 1:26-27 merupakan kecaman Paulus untuk heteroseks yang terlibat atau melakukan praktik homoseksual, dengan sengaja meninggalkan (aphiēmi) praktik yang seharusnya bagi mereka (Boswell 1980, 109)
 Tulisannya Loader menjelaskan bahwa homoseksual merupakan orientasi menyimpang yang adalah perwujudan dari respons menyimpang terhadap Allah, yang menjadi landasan Paulus ialah Kejadian 1:27. Tentu ia memiliki pandangan seperti orang Yahudi kebanyakan di eranya,  yang percaya bahwa manusia hanya terdiri dari laki-laki dan perempuan­­ (heteroseksual). Pemahaman saya betentangan dengan William Loader, saya tidak setuju jika homoseksual dianggap sebagai hal yang menyimpang dalam keterkaitannya dengan konsep “natural.” Gagasan saya didukung oleh Jack Rogers mengenai kata “physis” (natural) dan “para physin” (unnatural), kata ini dalam terjemahan LAI diterjemahkan dengan kata “wajar” dan “tidak wajar.” Menurut Loader, Paul tidak sedang berbicara pelanggaran tentang penciptaan, kata physis (wajar) bukan sebuah sinonim kata ktisis (penciptaan), kata physis (wajar) mengarah pada pandangan yang umumnya dipahami oleh orang-orang dan bagaimana mereka seharusnya berperilaku  dalam budaya Helenistik-Yahudi pada abad pertama (Rogers 2006, 77-28).
Kata “physis” (wajar) dan “para physin” (tidak wajar) dihubungkan dengan kalimat “metēllaxan ten physiken chrēsin eis ten para physin” (menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tidak wajar), setiap bagian tubuh merupakan pemberian Allah yang digunakan secara wajar, mungkin asumsi yang dimaksudkan oleh Paulus dalam Roma 1:26 ialah: kebebasan menggantikan yang wajar dengan yang tidak wajar, seperti penggunaan lidah sebagai pengganti penis, atau penggunaan anus sebagai vagina, mereka melakukan hal yang melanggar Allah dengan menolak hal yang natural (Oden 2003, 85).
Kata “physis” (wajar) juga berkaitan dengan kebudayaan pada masa itu, konstruksi mengenai ekspresi dan seksualitas menjadi hal yang dikontrol, misalnya: bukanlah hal yang wajar jika perempuan menggantikan posisi sebagai laki-laki (pemberi penetrasi), dan laki-laki menggantikan posisi sebagai perempuan (penerima penetrasi). Laki-laki merupakan seorang yang aktif sedangkan perempuan harus menjadi seorang yang pasif. Jika posisi keduanya diubah tatanan kehidupan akan rusak, inilah yang dimaksud oleh Paulus sebagai “para physin” (McLaren 2014, 110). Saya tidak setuju terhadap pandangan di atas, jika kebudayaan menjadi tolok ukur menilai posisi laki-laki maupun perempuan, seakan-akan Paulus mengutamakan posisi laki-laki di atas posisi perempuan.
William Loader memberikan penjelasan luas mengenai hasrat menyimpang dan perilaku menyimpang, Paulus merujuk hasrat seksual sebanyak tiga kali dengan menggunakan tiga kata berbeda: epithymai, “keinginan(ay. 24); pathe, “hawa nafsu” (ay. 26); orexei “berahi” (ay. 27). Bagi Paulus hasrat adalah sesuatu yang alami pada dirinya sebagai bagian dari ciptaan Allah. Semua tergantung bagaimana menggunakannya. Akan tetapi penggunaan tiga kata di atas tidaklah ilmiah, melainkan sebuah manifestasi dari sebuah kondisi menyimpang karena tindakannya (Loader 2019, 39). Dalam teks ini istilah Yunani pathê (bentuk jamak) hawa nafsu, meluas menjadi pathos atimias yaitu “hawa nafsu yang memalukan” (ayat 26).
Hawa nafsu yang memalukan dipahami sebagai perilaku seksual tak wajar, dan terkait dengan kejahatan moral: lalim, jahat, serakah, busuk, dengki, pembunuh, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan (ayat 29), dan terkait juga dengan 20 jenis kejahatan yang terurai pada ayat 30-31.  Hawa nafsu yang berlebihan ini dijadikan tolok ukur untuk menilai amoralitas, namun bukankah perilaku seksual heteroseksual pun bisa bermoral dan tidak bermoral? Hal yang sama juga bisa dilakukan oleh seorang homoseksual. Pada ayat 27 ditegaskan bahwa perilaku seksual para perempuan dan laki-laki dianggap sebagai amoralitas seksual, karena tidak didasarkan pada kasih melainkan oleh hawa nafsu, menjadi jelas bahwa yang dilarang oleh Paulus ialah motivasi di balik hubungan seksual, ia berbicara mengenai amoralitas seksual yang dilakukan oleh seseorang dengan dasar kemesuman (tên askhêmosunên).
Kesimpulannya  teks Roma 1:26-27 memiliki konteks yang sangat luas untuk dibahas, berangkat dari stereotip terhadap penyembahan berhala, konsep “wajar” dan “tidak wajar,” yang menjadi titik pelarangan terhadap amoralitas seksual yang dilakukan homoseksual. Namun Paulus tidak bermaksud menghakimi keberadaan homoseksual sebagai orientasi seksual manusia, melainkan tindakan amoralitas seksual tanpa kasih dan kesetian dalam hubungan manusia.

Melebur bersama narasi Kitab Suci
Tlah ku lihat narasi itu...
Teks yang dianggap menolak namun tidak begitu artinya,
Bukan esensi melainkan nafsu yang kuat
Budaya membentuk konstruksi, kasih membentuk persatuan
Kemesuman berbeda dengan cinta kasih
Ku tahu saat ini, yang wajar terbentuk oleh budaya
Yang tidak wajar dianggap asing.
  

Bab III
Merayakan Kehidupan sebagai seorang gay
            Realitas yang saya temukan dalam komunitas gay memiliki hubungan dengan analisis teks Roma 1:26-27, pengalaman dan teks Alkitab terkadang keduanya dapat bersitegang. Paulus tidak mengecam orientasi seksual melainkan amoralitas seksual, suatu tindakan yang dilandasi hawa nafsu yang berlebihan. Lalu bagaimana dengan pasangan gay masa kini yang menghargai cinta kasih, kesetiaan dan penghormatan atas tubuh pasangannya sebagai Citra Allah?

Memahami Allah melalui realitas dan teks Roma 1:26-27
Amoralitas pada Roma 1:26-27 menjadi suatu kritik bagi setiap komunitas baik homoseksual maupun heteroseksual. Apakah Alkitab dapat berjalan bersamaan dengan pengalaman seorang gay? Saya menyatakan bisa, jika ada suatu komitmen pada kebenaran dan kemauan untuk berjalan bersama Allah sebagai sesuatu yang esensial bagi iman. Saya mengingat perkataan dosen pembimbing saya yaitu Bambang Subadrijo, ia mengatakan: “semua hubungan adalah physis “wajar” sejauh hubungan itu dipelihara dalam kasih, kesetiaan, rasa hormat, dan pertanggung jawaban atas satu sama lain. Namun hubungan manusia (heteroseksual dan homoseksual) akan bertemu dengan aturan kultural, homoseksual bukanlah sebuah dosa teologis melainkan dosa kultural.
            Pengalaman membentuk saya dan bagaimana cara saya memahami Allah, keberadaan komunitas gay masa kini memberikan suatu gambaran atas Allah. Ia dapat dipahami melalui pertemuan dengan manusia, sebagai Citra Allah. Memahami Allah memiliki kesan yang sangat rumit, saya mencoba untuk melihat realitas yang dibahas dalam teks Roma 1:26-27 dengan situasi masa kini, ketika beberapa di antara kami (komunitas gay) kehilangan kepercayaan terhadap sesama dan kepada Allah. Bagaimana cara saya dapat merayakan kehidupan di tengah ratapan terhadap realitas? Saya menemukan jawaban melalui “harapan.”
            Sebuah harapan dengan potensi kecil untuk mengembangkan komunitas gay, dimulai dengan penerimaan diri sendiri dan berdialog dengan teks-teks Alkitab. Saya ingin sekali mengatakan kepada komunitas gay: “aku bersamamu kawan, mari kita bersama-sama maju mengubah dunia.” Kata mengubah yang saya maksudkan ialah suatu kehidupan di mana semua orang dapat menerima manusia apa adanya.  Hal inilah yang dinamakan merayakan kehidupan sebagai peziarahan, saya tidak memulainya dengan harapan agar semua orang dapat menerima kami, melainkan dengan harapan agar setiap gay dapat menerima dirinya sendiri dan memahami bahwa Allah memiliki anugerah baginya.
Peziarahan untuk memahami Allah hanya terjadi oleh anugerah pengampunan-Nya yaitu ketika kekuatan Allah yang menyelamatkan. Jika kita menerima bahwa seorang heteroseksual dapat memahami Allah melalui anugerah penyelamatan-Nya, maka tidak menutup kemungkinan seorang gay dapat memahami Allah melalui anugerah penyelamatan-Nya. Apakah “para physin” sebagai hal yang tidak wajar memegaruhi relasi seorang gay dengan Allah ? Wesley Hill mengutip perkataan C.S. Lewis yang berkata:
Spekulasi kita tentang penyebab ketidakwajaran bukanlah hal yang penting dan kita perlu merasa cukup dengan ketidaktahuan ini. Para murid diberitahu mengapa (berkenan penyebab utama) seorang dilahirkan buta (Yoh. 9:1-3): hanya penyebab akhir, bahwa karya Allah [harus] nyata di dalam dirinya. Hal ini menunjukan bahwa dalam homoseksualitas, juga setiap kesengsaraan, karya-karya itu dapat dinyatakan, jika kita mau mencarinya, [dan] akan “mengubah keperluan pada kemuliaan.” (Hill 2019, 185-186)

Pernyataan di atas dapat dipertanyakan yaitu peran khusus apa yang dapat dilakukan oleh gay dalam beriman dan memahami Allah? Hal ini dapat terjadi disaat seorang gay dapat menerima diri sendiri dan memiliki hubungan (parthership) yang sehat.
           
Penerimaan Diri Sendiri
            Penerimaan diri sendiri merupakan sebuah proses yang panjang, tidak mudah bagi seorang gay memahami arti dan makna seksualitas yang dimilikinya. Mengapa? Hal ini tentu akan bersinggungan dengan nilai agama, sosial-budaya, dan hal lainnya yang memainkan peran dalam pembentukan identitas. Seorang gay perlu untuk “coming in” menerima diri sendiri. Untuk berlaku jujur terhadap diri sendiri diperlukan penerimaan terhadap perasaan homoseksual.
Kimeron N. Hardin, dalam bukunya “The Gay and Lesbian Self-Esteem Book: A Guide to Loving Ourselves” menyatakan harga diri dan kepercayaan seorang gay memengaruhi kehidupannya-secara romantis, secara profesional, dan secara spiritual (Hardin 1999, 9). Seorang yang memahami dirinya sendiri mampu untuk menghargai tubuh, membaur dengan lingkungan sekitar, dan melakukan sikap dan tindakan yang baik. Seperti halnya menjadi seorang gay, diperlukan pemahaman atas diri sendiri, sehingga mampu menjadi diri sendiri.
Menjadi diri sendiri bagi saya juga merupakan suatu proses untuk memahami Allah. Hardin mengatakan bahwa spiritualitas akan membantu seorang gay terkoneksi dengan dunia, sebagai sebuah kehidupan yang akan terus berjalan. Spiritualitas gay membantunya memahami bahwa ia ada, selain itu spiritualitas juga dapat dijadikan batu loncatan dari rasa malu menjadi seorang gay menjadi rasa bangga menjadi seorang gay (gay shame to gay pride).
Berdamai dengan diri sendiri bagi saya ialah mempertemukan titik yang rumpang menjadi rampung, mempertemukan orientasi seksual yang saya miliki dengan realitas eksistensi sebagai seorang gay. Berdamai merupakan tahapan yang sangat penting, khususnya mengarahkan seorang gay pada apa yang ia pahami tentang tubuh, seksualitas dan keimanannya. Berdamai dengan teks Alkitab yang dianggap menghakimi komunitas gay, melalui pembacaan Alkitab dengan kaca mata gay, mengisahkan kembali pengalaman menjadi seorang gay dengan apa yang dikatakan oleh teks-teks Alkitab.
Parthership
Hubungan yang sehat menjadi sebuah tawaran untuk pasangan gay, misalnya dimulai dengan pertanyaan: mengapa suatu hubungan sangat penting? Alasannya ialah untuk mencapai intimasi, menjadi pendukung di dunia yang homophobia, mengalami perubahan (Clunis & Green 2005, 8-13). Pola hubungan yang terjadi di komunitas gay “chat, meet, fun, and lost contact” dapat diperbaharui dengan tahapan hubungan yang ditawarkan oleh D. Merilee Clunis dan G. Dorsey Green, dalam bukunya Lesbian Couples: A Guide to Creating Healthy Relationship, yaitu:
1.     Prerelationsip, merupakan tahap pengenalan satu sama lain, berawal dari asumsi atas pasangan, membaca pikiran pasangan di dalam komunikasi, mengenal ekspetasi atas hubungan di antara keduanya.
2.     Romance, pada tahap ini erat kaitannya dengan pengertian, penerimaan, penghargaan, perasaan dicintai dan mencintai. Pada tahap ini pasangan gay diarahkan untuk mencintai pasangan dan memiliki kekaguman satu dengan yang lainnya.
3.     Conflict and Disilusionment, pada tahap ini pasangan gay diarahkan untuk melihat hubungan di antara keduanya. Konfik yang dapat terjadi disaat keduanya saling egois dan memikirkan diri sendiri. Pada tahap ini pasangan gay diarahkan untuk saling mengerti permasalahan yang dihadapi dan mengembangkan hubungan yang lebih baik lagi (evaluasi).
4.     Acceptance, tahap ini dideskripsikan sebagai pengakuan atas pengalaman konflik yang telah terjadi, bagaimana pasangan gay menghadapi permasalahan dan dapat menerima pasangan seutuhnya, berbalik ke arah satu sama lain dan bukannya menjauh.
5.     Commitment, pada tahap ini akan lebih jelas bahwa “there won’t be anyone else as special to you as I am,” pola relasi disaat seorang gay mereasa pasangannya layak untuk menjadi pasangannya, memiliki perasaan yang mendalam di antara keduanya, dan keingingan untuk memiliki hubungan jangka panjang dan siap menghadapi rintangan.
6.     Colloboration, pada tahap ini pasangan gay akan fokus pada pemaknaan atas hubungan dan mengembangkan sesuatu yang lebih besar untuk dibagikan kepada dunia, seperti: sebuah bayi, bisnis kerja, dan rumah. Pada tahap ini juga mereka akan terus berjalan di dalam kehidupan yang bahagia (Clunis & Green 2005, 16-33).

Berdasarkan seluruh pemaparan, kita dapat melihat konteks yang dibahas (komunitas gay dan diri saya sendiri) melalui analisis teks Roma 1:26-27. Tindakan amoralitas yang ditentang oleh Paulus adalah motivasi di balik hubungan seksual yaitu hawa nafsu yang berlebihan, Paulus tidak mengritik orientasi seksual melainkan perilaku seksual. Pada bagian akhir makalah ini, saya ingin mengajak pembaca untuk merasakan kehidupan seorang gay.
             Saya berpendapat bahwa melalui tari (seni) sebuah kata-kata [yang tak terucap] dapat dibahasakan, tarian yang saya tawarkan ialah tarian kontemporer. Tarian menjadi sebuah bahasa dalam gerak dan keheningan tubuh. Tarian yang dibawakan tidak terbatas pada tarian individu, melainkan diiringi dengan seorang gay. Pertanyaannya ialah bagaimana seorang gay dapat memahami Allah dan mewujudnyatakan dalam seni? Jawabannya adalah melalui penerimaan diri dan prinsip “Parthership.” keduanya merupakan tawaran yang saya berikan untuk komunitas gay. Berdamai dengan diri sendiri dan Kitab Suci sebagai suatu proses peziarahan, bagi saya ini adalah sebuah panggilan yang memiliki pilihan, dan pilihan itu dimulai dari saya yang sadar bahwa “it’s okay menjadi gay, karena Allah menciptakanku begitu indah.”

Marilah Merayakan Kehidupan
Semesta mengetahui peziarahan seorang gay,
Penerimaan diri sangat penting, parthership buktinya
Aku beriman karena aku percaya,  Allah telah menciptakanku
Merayakan hidup dengan pasanganku
Menari bersama di dalam luka dan suka.
Kami gay dan kami percaya Allah bahwa Allah bersama dengan kami.

Bab IV
Penutup
            Siapakah yang dapat memahami Allah? Ia dapat dipahami bukan hanya oleh komunitas heteroseksual melainkan juga oleh seorang gay, sebagai suatu peziarahan atas realitas dan perayaan atas kehidupan. Pemahaman atas Allah tidak memiliki batasan, Ia dapat dipahami oleh semua orang (heteroseksual dan homoseksual). Pemahaman ini hadir di dalam tarian yang menjadi tawaran untuk komunitas gay. Berdamai dengan diri sendiri (penerimaan) dan menjalankan pola relasi yang sehat (parthership), pemahaman atas Allah hadir di antara keduanya. Tarian kemudian menjadi sebuah ruang perjumpaan dengan Allah, membawa setiap pertanyaan yang diperumitkan oleh manusia.
            Bagi komunitas gay, tarian ini dapat dijadikan suatu pengalaman untuk melihat kehidupan.  Khususnya pola relasi yang terjebak pada “chat, meet, fun, lost contact” menuju pola relasi yang sehat. Hubungan pasangan gay yang dipelihara dalam kasih, kesetiaan, hormat, pertanggungjawaban satu sama lain. Jika penerimaan diri sendiri dan membangun komunitas yang sehat berhasil dilakukan, tahap selanjutnya ialah bagaimana cara membangun dunia yang dapat menerima keberadaan homoseksual?


Memahami Allah

Aku gay dan dapat memahami Allah
Peziarahanku mengambarkan ratapan pada realitas,
Merayakan kehidupan menjadi tujuan akhir.
Aku menerima diriku dan melebur bersama pasanganku
Penolakan diri, penerimaan diri, dan menjalani pola relasi yang sehat.
Percaya diriku muncul, Rasaku sudah nyata
Kami menari menembus stigma atas tubuh kami
Tubuh yang katanya terletak pada nafsu, cinta kasih kami menembusnya
Memahami Allah menjadi nyata disaat aku menerima diri
Menjalani cinta kasih, kesetiaan, rasa hormat padanya.


Naskah Tarian Karyatama
“Siapakah yang Dapat Memahami Allah? Peziarahan Seorang Gay dalam Meratapi Realitas dan Merayakan Kehidupan”
Naskah:
            Siapakah yang dapat memahami Allah merupakan sebuah pertanyaan yang mengambarkan peziarahan seorang gay. Mengapa Allah menciptakan saya sebagai gay? Mengapa Allah mengizinkan saya terlibat ke dalam realitas yang amat rumit? Bagaimana saya menghayati Kitab Suci? Bagaimana saya memahami Allah? Bagaimana saya menerima diri sendiri dan menghayati keberadaan saya sebagai citra Allah? Bagaimana saya berproses untuk percaya diri dan menjalin kasih dengan pasangan?
            Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan peziarahan yang akan dinarasikan melalui tarian. Melalui imajinasi teologis seorang gay yang memahami Allah, tarian ini hendak menyatakan bahwa tidak ada batas untuk memahami Allah. Dalam tarian ini, saya ingin membuktikan bahwa seorang gay tidak selalu terikat pada tindakan amoralitas. Saya memahami bahwa penerimaan diri merupakan langkah awal memahami Allah. Tulisan dan tarian merupakan sebuah tawaran bagi komunitas gay agar dapat menerima diri sendiri citra Allah. Mengapa ini penting? Bagi saya, sebuah perjalanan yang indah dimulai dari proses menerima dan memahami diri sendiri. Tarian yang akan saya bawakan ditutup dengan tahap merayakan kehidupan, sebuah proses seorang gay dengan percaya diri melangkah di tengah dunia. Merayakan kehidupan merupakan suatu langkah yaitu seorang gay memiliki kasih, rasa hormat, dan kesetiaan pada pasangannya.
Tarian ini akan dibantu oleh beberapa figuran. Makna tarian akan saya jelaskan pada akhir pendamping makalah. Instrumen suling “Sacred Ground” oleh David R. Maracle, lagu “Heaven” oleh Troye Sivan, dan  “I Surrender” oleh Hillsong United akan mengiringi tarian saya. Pilihan lagu-lagu tersebut mendukung saya dalam mengambarkan peziarahan yang saya alami sebagai seorang gay. Tarian yang akan saya tampilkan selama kurang dari 20 menit, terdiri dari 4 tahap ratapan terhadap realitas dan 2 tahap merayakan kehidupan, berikut adalah penjelasannya:
Tahap pertama merupakan tarian ratapan yang mengimajinasikan dan mengingatkan saya sebagai seorang gay, khususnya awal mula saya mengenal orientasi seksual saya. Sebuah kesadaran atas diri sendiri, yang dimulai dengan gerakan berjalan mengelilingi ruangan, menatap tubuh pada kaca sambil melihat bagian tubuh. Dilanjutkan dengan tarian yang menggambarkan kegelisahan; menampilkan beberapa gerakan tubuh yang mempertanyakan seksualitasnya kepada Allah. Pada tahap ini, gerakan yang saya lakukan berulang ialah menadah tangan ke atas (diiringi musik instrumen dan diakhiri bunyi gong tujuh kali).
Tahap kedua merupakan tarian yang mempertemukan saya dengan realitas komunitas gay, sebuah kesadaran yang  mengambarkan reaksi saya melihat beragam pergumulan yang dihadapi komunitas gay. Pada bagian ini, akan ditampilkan beragam suara penolakan diri yang dilakukan oleh komunitas gay. Tarian ini akan diiringi instrumen musik djembe yang sangat tidak teratur, sebagai gambaran kerumitan seorang gay meratapi realitas komunitasnya, ditutup dengan membawa kain hitam (simbol penolakan) yang akan dibawa di depan salib. Mengapa salib? Saya menganggap bahwa hanya kepada Allah saya dapat membawa semua kerumitan. Pada tahap ini, gerakan yang akan saya ulang ialah menutup telinga dan menunduk ke bawah.
(hening 10 detik)
Tahap ketiga merupakan sebuah tarian yang akan diiringi oleh lagu “Heaven.” Tarian yang mengambarkan perjalanan saya sebagai seorang gay mulai sadar atas realitas. Saya telah berefleksi atas iman dan seksualitas. Setiap gerakan akan menyiratkan sebuah kisah, misalnya gerakan yang menyiratkan pertanyaan, gerakan membuka Alkitab, gerakan membuka tangan, gerakan berdiri tegap dan melebarkan tangan sebagai keberanian seorang gay.  Tahap ini menggambarkan sebuah pergumulan yang sangat rumit. Saya berusaha untuk mengambarkannya dengan beberapa gerakan putus asa dengan sebuah harapan.
Tahap keempat dimulai dengan lagu “I Surrender.” Figuran akan melebarkan kain warna-warni, saya mulai berjalan di atas kain tersebut dan menyerahkan diri kepada Allah. Saya berefleksi bahwa peziarahan yang rasa jalani berawal dari Allah dan saya menyerahkannya pada Allah. Saya mengilhami perjalanan saya sebagai seorang gay dengan spiritualitas yang saya miliki. Pada tahap ini, gerakan yang menjadi ciri khas ialah sembah sujud di hadapan salib. Pada bagian akhir, saya akan menuliskan kata “I am gay” dengan pasir bewarna-warni sebagai wujud refleksi bahwa saya menerima bahwa Allah menciptakan saya menjadi seorang gay. Tarian ini akan ditutup dengan narasi komitmen saya kepada Tuhan, saya berjalan menuju bendera pelangi, berdiri di atasnya sambil menghadap salib dan mengambil sikap hormat kepada Allah.
Tahap kelima merupakan pertemuan saya dengan seorang pria, kami mengenal satu sama lain, sebuah refleksi atas tubuh yang saya miliki dengan pasangan saya. Tarian yang mengambarkan pergumulan keduanya dalam menjaln kasih. Tarian ini menjadi refleksi yang tergambar dalam setiap gerakan: menari bersamanya, merasakan luka, merasakan duka, merasakan suka, merasakan tubuh, merasakan seksualitas, merasakan kasih, dan merasakan Allah di atas tubuh yang kudus. Gerakan-gerakan di atas menyiratkan kisah bahwa kami merayakan kasih di dalamnya.
Tahap keenam, saya dengan pasangan saya akan bermain dengan pasir yang bewarna-warni, kami merayakan kehidupan sebagai pasangan gay, saya memberikan warna pada tubuhnya, hal demikian juga dilakukan oleh pasangan saya. Tarian akan ditutup dengan gerakan membawa diri kami yang bewarna dihadapan salib, mewarnai salib dengan warna yang ada di dalam tubuh kami, sebuah gambaran bahwa Allah juga merasakan warna (pelangi) yang ada di dalam kami. saya, pasangan saya, dan Allah merupakan kesatuan dalam merayakan kehidupan, hal inilah yang tujuan di dalam makalah saya.

Makna Gerakan:

Tahap 1:
1.     Sentuhan dengan seluruh bagian tubuh, sebuah pemaknaan mendalam atas setiap bagian tubuh yang saya miliki.
2.     Memegang kelamin dan mengangkat tangan ke atas, sebuah tanya atas seksualitas yang saya miliki.
3.     Tubuh yang berjalan tak beratur, sebuah gambaran atas kegelisahan yang saya miliki.
4.     Mengadah ke atas, sebuah refleksi kepada Allah dan penyerahan tubuh dan seksualitas kepada Allah.
Tahap 2:
1.     Sikap diam dan mendengar, sebuah gambaran yang saya hadapi atas komunitas yang menolak diri sendiri.
2.     Ketakutan dan gelisah, sebuah gambaran atas narasi penolakan yang harus saya terima dan mempengaruhi diri saya sendiri.
3.     Menutup telinga dan menunduk ke bawah, sebuah gambaran bahwa saya tidak sanggup mendengar mereka yang menolak diri sendiri (gay).
4.     Gerakan tidak teratur, sebuah gerakan yang mengambarkan ketidakteraturan yang saya alami untuk memahami komunitas.
5.     Berjalan ke arah salib dan meletakan kain hitam, sebuah tindakan kepada Allah atas realitas yang saya hadapi, gerakan ini menjadi sebuah dialog yang saya lakukan dengan Allah.



Tahap 3:
1.     Mempertanyakan kebenaran, sebuah gerakan yang mengambarkan: Apakah ada hal yang paling benar dan salah? Apakah salah menjadi seorang gay? Di manakah Allah? Mengapa komunitas saya menolak untuk menjadi seorang gay?
2.     Membuka Alkitab dan berdialog dengan Alkitab, sebuah gambaran atas pergumulan. Saya menemukan sebuah jawaban bagaimana menjadi seorang gay yang sama seperti semua orang.
Tahap 4:
1.     Berjalan di atas bendera pelangi, sebuah pemaknaan bahwa saya berjalan bersama dengan pengalaman yang saya miliki.
2.     Sujud di atas bendera pelangi, sebuah penyerahan diri kepada Allah.
3.     Menuju salib dan berdoa (menari), sebuah gambaran relasi seorang gay dengan Allah.
4.     Berjalan ke bendera pelangi dan berdiri di atasnya, sebuah gambaran bahwa saya menerima diri sendiri dan sebuah bukti bahwa seorang gay dapat berelasi dengan Allah.
5.     Menerima diri bersama Allah, sebuah gerakan yang sangat bermakna untuk diri saya sendiri dan komunitas gay.
6.     Gerakan akhir diiringi narasi, sebuah gerakan yang mengambarkan komitmen seorang gay yang menghayati spiritualitasnya dengan cinta kasih, kesetiaan, rasa hormat pada pasangannya nanti.
Tahap 5:
1.     Datangnya seorang pria lain yang menari, sebuah gerakan yang mengambarkan perjumpaan saya dengan pasangan saya.
2.     Memeluk, sebuah gerakan merasakan apa yang saya rasakan (luka, suka, tubuh dan seksualitas yang saya miliki.
3.     Menari bersama dengan gerakan yang sama, sebuah tarian yang mengambarkan proses kami menyatukan kasih
Tahap 6:
1.     Bermain dengan pasir bewarna warni pada masing-masing tubuh, sebuah gerakan merayakan tubuh dan seksualitas kami, gambaran atas cinta kasih kami yang tersirat melalui warna-warni.
2.     Memegang tangan, suatu gerakan yang mengambarkan komitmen kami dalam menjalin hubungan.
3.     Berjalan ke arah salib dan sujud menyembah, sebuah gambaran penyerahan diri kepada Allah yang menciptakan kami
4.     Mewarnai salib, sebuah gambaran merayakan cinta kasih kami di dalam kepercayaan kepada Allah.
5.     Narasi akhir: “kami gay dan kami percaya bahwa Tuhan telah menyatukan kami”

Daftar Acuan

Boswell, John. 1980. Christianity, Social Tolerance, and Homosexuality: Gay People in Western Europe from The Begining of the Christian Era to The Fourteenth Century. Chicago: University Press.
Carolina, Riska. 2019. Catatan Kelam: 12 Tahun Persekusi LGBTI di Indonesia. Jakarta: Arus Pelangi.
Clunis, Merilee D dan G. Dorsey Green. 2005. Lesbian Couples: A Guide to Creating Healthy Relationship. Berkeley: Seal Press.
End, Th. Van den. 1997. Tafsiran Alkitab: Surat Roma. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Ganzevoort, Ruard, dan Lifter Tua Marbun. 2016. Adam & Wawan? Ketegangan antara Iman dan Homoseksualitas. Yogyakarta: Gading Publishing.
Handoko, Yakub Tri. 2016. Memikirkan Ulang Homoseksualitas: Sebuah Perspektif Kristiani. Surabaya: GratiaFIDE.
Hardin, Kimeron N. 1999. The Gay and Lesbian Self-Esteem Book: A Guide to Loving Ourselves. Oakland: New Harbinger Publications.
Hill, Wesley. Dalam Kristus, Kitab Suci dan Persahabatan Spiritual. Dalam Homoseksualitas dan Kekristenan: sebuah perdebatan, peny. Ita Siregar, 155-193. Jakarta: Bentara Pradipa Pustaka.
Loader, William. 2019. Dalam Homoseksualitas dan Alkitab. Dalam Homoseksualitas dan Kekristenan: sebuah perdebatan, peny. Ita Siregar, 13-69. Jakarta: Bentara Pradipa Pustaka.
Oden, Thomas C. Dalam The Classic Christian Exegesis on Romans 1:22-28. Dalam Staying the Course: Supporting The Church’s Position on Homosexuality, peny. Maxie D. Dunnam, 85-96. Nashville: Abingdon Press.
Regele, Michael B. 2014. Science, Scripture, and Same-Sex Love. Nasville: Abingdon Press.
Rogers, Jack. 2006. Jesus, The Bible and Homosexuality: Explode The Myths, Heal The Church. Louisville: Westminster John Knox Press.
Singgih, Emanuel Gerrit. 2019. Menafsir LGBT dengan Alkitab: Tanggapan Positif terhadap Pernyataan Pastoral Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mengenai LGBT. Jakarta: Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta Pusat Kajian Gender dan Seksualitas.
Subandrijo, Bambang. 2019. Dalam Bagaimana (seharusnya) sikap gereja terhadap LGBT: Suatu tinjauan biblis. Dalam Siapakah Sesamaku? Pergumulan Teologi dengan Isu-isu Keadilan Gender, peny. Stephen Suleeman, 40-57. Jakarta: Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta. 

Website :
Hornet. Pedoman Penggunaan. https://hornet.com/about/usage-guidelines/guidelines-id/ (diakses 07 Agustus 2019)

Wawancara:
Ahmad, Mulyadi. 2019. Wawancara oleh penulis. Jakarta, Indonesia, 6 Agustus.
Herman, Muhammad. 2019. Wawancara oleh penulis. Jakarta, Indonesia, 4 Agustus.

Comments

  1. Menarik, tapi satu premis yang keliru sejak awal, bahwa kebenaran bukan subjektif. Allah Kristen bukan ditemukan, namun Ia merevelasikan diriNya pada manusia yang terbatas...

    Anugerah itu datang bukan dihampiri. Menemui bukan ditemui...

    Jika itu duri dalam daging, biarlah anugerah dan kekuatan Allah nyata dengan caraNya, bukan cara kita. Karena ketika kita lemah, kita kuat...

    ReplyDelete

Post a Comment